maxster No Comments

Sejumlah pelaku inovator teknologi mengakui, bahwa untuk mendapatkan standarisasi memang perlu waktu yang lama. Seperti halnya yang dirasakan oleh Wahono Handoko. Pemilik sekaligus pencipta karya inovasi teknologi Kompor Gastrik ini mengaku, harus melalui berbagai proses untuk mendapatkan standarisasi hingga akhirnya ia bisa menjual Kompor Gastrik total 315 unit.

“Saya memulai meneliti ini sejak tahun 2007. Proses try and error. Ide ini muncul karena saya ingin membuat kompor yang aman digunakan untuk memasak di dapur. Tanpa menggunakan gas elpiji,” tutur dia saat ditemui di acara Innovator Forum, Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (Inotek) 2016, di Hotel Santika Premier, Rabu (27/7/2016).

Ia menjelaskan, tak hanya kompor saja yang ia ciptakan, tetapi juga bahan bakarnya juga. Yakni menggunakan fermentasi hasil dari bioethanol dari tanaman. Yakni ada tiga tanaman, Tanaman Pati-patian (umbi-umbian), Nirah (limbah cair tebu), dan Selulosa (rumput-rumputan). Bahan-bahan itu diolah, mulai dari difermentasi, diambil kadar alkoholnya, hingga hasil akhirnya berupa cairan berwarna bening.

Dari segi bau memang sedikit mirip dengan spirtus dan alkohol. Penjualan Kompor Gastrik ini sudah memasuki generasi ke 9. Untuk harga, ia mematok harga kisaran Rp 250 ribu hingga Rp 400 ribu.

“Kompornya ini juga menggunakan baterai 9 volt sebagai pengganti aliran listrik.,” imbuh pria asal Bandung ini. Dari hasil penelitiannya itu, setidaknya ia butuh waktu sekitar 3 tahun untuk mengembangkan usahanya agar dikenal dimasyarakat, dan bisa memasarkan.

Selain Handoko, juga ada Puji Heru Sulistiyono (53). Pria asal Sleman Jogjakarta ini, datang untuk memamerkan tiga penelitian teknologinya, yakni Ternak Cacing menggunakan reactor cacing yang sudah ia jalani sejak tahun 1999. Lalu juga ada teknologi pengelolahan sampah basah yang ia teliti sejak tahun 2014. Serta penelitian teknologi media tanam plastik yang sudah ia jalani sejak tahun 1992.

Ia mengatakan, dari tiga penelitiannya ini hanya satu yang berhasil ia komersilkan. Yakni Ternak cacing. Dengan reactor cacing. “Karena ternak cacing kan banyak yang membutuhkan. Untuk dikomersilkan juga mudah, karena ramah lingkungan,” tuturnya. Ia pasang harga reactor cacing yakni sebesar Rp 1,2 juta untuk tipe panjang 135 cm.

Selain itu, satu usaha yang berhasil dikomersilkan dari Malang, ialah inovasi Sulis (susu listrik). Kebanyakan susu sapi sehabis diperah dimasak menggunakan kompor, tetapi ini menggunakan alat yang memakai daya listrik untuk menghasilkan susu yang siap diminum.

M Choirul Aziz, Asisten Research & Development Director alat MaxZer, mengatakan memulai usaha ini sejak tahun 2007. Sedangkan mulai dipasarkan sejak tahun 2009. Saat ini sudah ada sekitar 100 alat yang terjual. Untuk alatnya sendiri ada berbagai macam penggunaan.

“Ada yang untuk membuat keju, yogurt, susu, serta teh. Masing-masing beda alatnya,” tuturnya.

Alat ini menggunakan tenaga listrik 2000 watt. Hasil susu yang dihasilkan apabila tidak ditaruh di dalam kulkas akan tahan selama 1 bulan maksimal. Sedangkan apabila di dalam kulkas, maksimal akan tahan selama 6 bulan. Alat dengan bernama Pasteurisasi Susu ini menampung susu cair sebanyak 50 liter. Harganya sekitar Rp 4 juta.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, sejauh ini para innovator di bidang teknologi yang memiliki usaha dan tergabung dalam Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (Inotek) memiliki kendala, yakni sulitnya untuk menkomersilkan karya ciptaan masing-masing. Beberapa karya inovasi teknologi ada yang sudah mengkomersilkan karyanya, ada juga yang belum.

(Sumber: suryamalang.tribunnews.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *