maxster No Comments

SUSU LISTRIK – Makin Berkibar (BSN)

Hadi Apriliawan Susu ListrikTidak mudah bagi seorang inovator untuk memasyarakatkan inovasinya. Diperlukan kegigihan dan komitmen tinggi untuk mengkomersialisasikan teknologi yang bermanfaat untuk masyarakat. Hal ini dirasakan oleh Hadi Apriliawan, salah satu inovator lulusan program mentoring Inotek.

Hadi mengikuti program mentoring Inotek dari tahun 2010 sampai 2014 dengan inovasi Susu Listrik (Sulis).  Sulis merupakan alat pasteurisasi berbasis listrik, dengan metode Pulsed Electrical Field (PEF). Mesin ini dapat menonaktifkan 99% mikroorganisme tanpa merusak kandungan protein dan nutrisi, dan memperpanjang waktu penyimpanan susu 2-5 hari dalam temperatur ruangan.

Dengan fasilitas program mentoring Inotek, Hadi telah menyempurnakan prototye Sulis sehingga menjadi produk yang siap untuk dipasarkan. Perluasan jejaring juga telah dilakukan sehingga berhasil menjalin kemitraan dengan investor.

 

Ditemuai tim Inotek di kantornya, PT. MaxZer Solusi Steril di Malang, Jawa Timur,  Hadi menceritakan tentang perkembangan yang diraih setelah lepas dari program Mentoring Inotek. Alat Sulis telah  dikembangkan tidak hanya berkapasitas produksi  10l, 50l, dan 100 l,  tetapi juga dengan kapasitas produksi 1000L untuk memenuhi kebutuhan kastamer.  Tidak hanya itu, dibawah bendera usaha PT MaxZer, telah diproduksi juga mesin-mesin turunan produk susu yang lain, seperti mesin produksi keju dan yoghurt.  Bermitra dengan kelompok peternak, produk keju, yoghurt, dan sabun susu juga telah diproduksi dan dipasarkan.

Dengan jumlah pegawai tetap sebesar 12 orang,  Hadi terus berinovasi untuk mengembangkan usahanya dan menjangkau seluruh Indonesia. Hadi tengah mengejar sertifikasi BSN (Badan Standardidasi Nasional) untuk mesin Sulisnya. Dengan fasilitasi dari Inotek, Hadi mendapat bimbingan dari BSN untuk melengkapi persyaratan SNI.

 

“Saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan INOTEK dan masuk ke program mentoring Inotek.  Karena dengan fasilitas mentoring, saya bisa mengembangkan inovasi saya sampai sebesar ini”, ujar Hadi.  Berangkat dari keluarga peternak, Hadi akan terus berupaya untuk turut mengangkat kehidupan peternak melalui inovasinya.

 

Kita doakan agar usaha Hadi makin berkembang, dan inovator-inovator binaan Inotek bisa meraih sukses juga setelah lulus dari program mentoring Inotek.

maxster No Comments

Bangga Memakai SNI

Gimana hari Selasanya, SNIzen? Tentunya Selasa mu #selaluluarbiasa, kan? Memang betul sih jika hari Selasa berarti weekend masih lama. Namun agar tidak patah semangat, yuk kita belajar dari kegigihan semangat seorang Hadi Apriliawan, penemu SULIS.
.
.
SULIS adalah sebuah alat pasteurisasi berbasis listrik, yang mana teknologi ini diluar negeri cukup terkenal dengan nama Pulsed Electrical Field (PEF). Teknologi ini diadopsi dan diinovasikan oleh Hadi, merancang SULIS yang mampu membunuh bakteri jahat dalam susu atau produk cairan lainnya tanpa merusak kandungan gizi di dalamnya. Dengan demikian, umur simpan produkpun menjadi lebih lama.
.
.
Melihat potensi dan manfaat SULIS yang begitu besar bagi kesehatan dan juga kualitas produk cair terutama susu, perusahaan yang diberi nama PT. Maxzer Solusi Steril ini sedang dalam pembinaan BSN untuk menerapkan SNI, lho SNIzen!
.
.
Tujuannya tentu agar SULIS menjadi mesin berteknologi aman dan higienis sehingga manfaatnya pun menjangkau masyarakat yang lebih luas.
.
.
Bangganya pemuda Indonesia berinovasi.
Salam #BanggaMemakaiSNI!

maxster No Comments

Roadshow SATU Indonesia Awards 2017: Ternate Komit SATU Indonesia Awards 2017

TERNATE: Dalam tahun ke-8 pelaksanaannya, Program Semangat Astra Terpadu Untuk atau SATU Indonesia Awards untuk pertama kalinya mengunjungi Kota Ternate, Maluku Utara. Ternate merupakan kota kedua setelah Tarakan yang menjadi kota tujuan PT Astra International Tbk dalam mencari “mutiara” bangsa.

Ternate sebagai kota kepulauan yang kaya akan perhiasan mutiara laut dan batu bacan dipilih sebagai kota kedua roadshow SATU Indonesia Awards (SIA) 2017 karena dipercaya memiliki pemuda pemudi yang tak kenal lelah memberi manfaat bagi masyarakat di sekelilingnya layaknya “mutiara”.

Diadakan di Universitas Khairun, Bincang Inspiratif SATU Indonesia Awards 2017 dihadiri oleh pelajar, mahasiswa, LSM, anggota komunitas dan berbagai institusi terkait bidang penilaian SIA (pendidikan, kewirausahaan, lingkungan, kesehatan dan teknologi). Peserta terlihat antusias dalam Bincang Inspiratif SIA 2017 yang menghadirkan narasumber Pakar Teknologi Informasi sekaligus Sekertaris Daerah Ternate Dr M. Tauhid Soleman, Dewan Juri SATU Indonesia Awards Dr. Onno W. Purbo, Head of Public Relations PT Astra International Tbk Yulian Warman, Head of Environment & Social Responsibility PT Astra International Tbk Riza Deliansyah, Wakil Rektor 4 Universitas Khairun Dr Said Hasan serta penerima SATU Indonesia Awards 2015 Apriliawan Hadi.

Bincang Inspiratif berjalan dengan sangat baik, didukung oleh semangat pemuda pemudi Ternate yang melemparkan banyak pertanyaan membangun. Head of Public Relations Yulian Warman berharap akan ada kandidat penerima apresisasi SATU Indonesia Awards 2017 dari kota Ternate. “Setiap tahun kami selalu berkeliling ke pelosok Indonesia karena kami percaya masih banyak mutiara bangsa yang bekerja keras tanpa pamrih untuk lingkungannya. Tahun ini kami berharap akan menemukan “mutiara” baru di Ternate.”

Sebagai salah satu juri SATU Indonesia Awards 2017, Onno Purbo juga memberikan arahan kepada “mutiara-mutiara” Ternate agar dapat mencapai yang terbaik, “Saya mengajak seluruh pemuda Ternate yang telah memberi manfaat bagi masyarakat luas di bidang: Pendidikan, Lingkungan, Wirausaha, Kesehatan dan Teknologi untuk menjadi kandidat penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2017. Mari bersama-sama kita berbagi inspirasi membangun bangsa.”

Apriliawan Hadi: Penggagas “Susu Listrik

Berawal dari keprihatinan terhadap kondisi peternak di kampung halamannya di Desa Sragi, Banyuwangi, Apriliawan Hadi mencoba mencari solusi alat yang bisa mengatasi masalah klasik yang dihadapi peternak, yakni susu yang tak bertahan lama dan kandungan bakteri patogen yang bisa menyebabkan penyakit bagi yang mengonsumsinya.

Hadi pun berpikir untuk menciptakan alat pasteurisasi. Pada 2007, pria kelahiran 21 April 1989 ini mendapatkan kesempatan untuk melakukan penelitian melalui Program Kreatif Mahasiswa (PKM). Akhirnya Hadi berhasil menemukan teknologi pasteurisasi modern berbasis kejut listrik yang dinamai Latte Electricity (LE). Melalui CV Inovasiana Anak Negeri, Hadi membuat mesin LE menjadi dua jenis berdasarkan kapasitasnya, yakni kapasitas 20 liter dan kapasitas 1,2 ton.

Tidak berhenti sampai proses pasteurisasi saja, penelitian Hadi terus berkembang hingga pada pembuatan keju dan yoghurt yang masih terintegrasi dengan mesin LE buatannya itu. Kehadiran alat LE membawa harapan baru bagi peternak. Dengan metode kejut listrik, hasil susu perah bisa bertahan lebih lama serta kandungan protein dan gizi dalam susu segar hasil perahan peternak tetap terjaga.

Penerima apresiasi SATU Indonesia Awards (SIA) 2015 ini mengungkapkan banyak dampak positif yang ia rasakan. Salah satunya adalah peningkatan respon positif dari customer baik dari UKM kecil hingga besar. “Untuk teman-teman Ternate, teruslah berinovasi dengan ada atau tidaknya penghargaan. Teruslah berusaha untuk berkarya untuk orang-orang di sekeliling. Jadilah pemuda baik bagi nusa dan bangsa,” pesan Hadi kepada pemuda-pemudi Ternate. “Jika kita fokus pada bidang yang kita geluti, Insya Allah sukses akan menanti!”

SATU Indonesia Awards

Program tahunan SATU Indonesia Awards diadakan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda untuk mencari pemuda-pemudi terpilih Indonesia yang telah memberdayakan serta menggerakkan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Dalam rangka HUT ke-60 pada tahun ini, Astra akan memberikan bantuan dana pengembangan masyarakat sebesar masing-masing Rp60 juta untuk penerima apresiasi tingkat nasional.

Selain itu, penerima apresiasi juga akan mendapatkan pembinaan kegiatan dari Astra. Mereka yang terpilih menjadi penerima SATU Indonesia Awards adalah mereka yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  • Berusia maksimal 35 tahun
  • Individu atau kelompok dengan jumlah anggota minimal 3 orang
  • Memiliki kegiatan yang orisinal
  • Penggiat/kegiatannya telah berlangsung minimal 1 tahun
  • Belum pernah menerima penghargaan nasional/internasional
  • Bukan karyawan Grup Astra dan Tempo Media Group
  • Dapat mendaftarkan orang lain yang memenuhi persyaratan dan ketentuan mengikuti SATU Indonesia Awards 2017

Kegiatan yang dapat didaftarkan dalam program ini adalah kegiatan yang dapat membantu dan mengusahakan orang lain agar bisa menjadi mandiri, dengan memberikan solusi, cara atau alat, bukan sekadar memberikan sumbangan atau donasi yang berdampak sementara. Juga dapat berupa pelatihan keterampilan sekelompok orang, komunitas atau masyarakat yang kurang beruntung, sehingga mereka punya keahlian dan dapat hidup mandiri.

Kegiatan-kegiatan yang membawa perubahan tersebut akan dinilai berdasarkan parameter berikut:

  • Motif: Ide awal, jenis kegiatan, tujuan/motivasi/sasaran, bidang prestasi, usaha untuk mewujudkan dan pihak-pihak yang bekerjasama dan lembaga pendanaan.
  • Hasil: Kegiatan dan hasil yang telah diciptakan.
  • Jangkauan: Jumlah dan dampak pada orang atau sistem yang telah dibangun melalui program-program yang telah dilakukan.
  • Kesinambungan: Menilai komitmen untuk melanjutkan kegiatan.

Sampai saat ini, telah terdapat 39 orang penerima apresiasi SATU Indonesia Awards yang telah berkarya dalam berbagai kategori Pendidikan, Lingkungan, Wirausaha, Kesehatan, Teknologi dan Kelompok. Berikut jumlah pendaftar program SIA:

Jumlah Pendaftar SATU Indonesia Awards (orang)

Apresiasi Tingkat Provinsi

Setelah 8 tahun berjalan, Astra meyakini masih banyak pemuda di pelosok Nusantara yang sebenarnya memiliki program pemberdayaan dan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya tetapi belum terjangkau oleh program ini. Hal ini terlihat dari tidak meratanya penyebaran pendaftar di 34 provinsi di Indonesia.

Oleh karena itu, mulai tahun ini, SATU Indonesia Awards akan mencari sosok inspiratif melalui seleksi di tingkat provins, yang juga akan menerima dana apresiasi. Sementara itu, untuk penerima apresiasi tingkat nasional, masing-masing kategori akan mendapatkan dana bantuan sebesar Rp60 juta dan pembinaan kegiatan.

Data Penyebaran Pendaftar SATU Indonesia Awards

Dewan juri SATU Indonesia Awards 2017 terdiri dari Prof. Emil Salim, Prof. Nila Moeloek (Menteri Kesehatan Republik Indonesia), Prof. Fasli Jalal (Wakil Menteri Pendidikan Nasional RI periode 2010-

2012 dan Guru Besar Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta), Ir. Tri Mumpuni (Pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan) dan Onno W. Purbo Ph.D. (Pakar Teknologi Informasi).

Seluruh masyarakat Indonesia yang mengetahui keberadaan dari para pemuda yang memiliki kriteria di atas dapat ikut terlibat dengan merekomendasikan dan mendaftarkan calon peserta mulai dari tanggal 20 Maret 2017 – 10 Agustus 2017. Informasi lengkap dan pendaftaran dapat dilakukan di www.satu-indonesia.com.

Berbagai program lain yang bisa diikuti adalah Sebar SATU Indonesia dan voting pemenang favorit. Sementara itu, perkembangan SATU Indonesia bisa dilihat melalui Facebook Fan Page: Semangat Astra Terpadu, Twitter: SATU_Indonesia dan Instagram: SATU_Indonesia.

Sumber

maxster No Comments

Inilah Pengakuan Pelaku Inovasi Teknologi

Sejumlah pelaku inovator teknologi mengakui, bahwa untuk mendapatkan standarisasi memang perlu waktu yang lama. Seperti halnya yang dirasakan oleh Wahono Handoko. Pemilik sekaligus pencipta karya inovasi teknologi Kompor Gastrik ini mengaku, harus melalui berbagai proses untuk mendapatkan standarisasi hingga akhirnya ia bisa menjual Kompor Gastrik total 315 unit.

“Saya memulai meneliti ini sejak tahun 2007. Proses try and error. Ide ini muncul karena saya ingin membuat kompor yang aman digunakan untuk memasak di dapur. Tanpa menggunakan gas elpiji,” tutur dia saat ditemui di acara Innovator Forum, Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (Inotek) 2016, di Hotel Santika Premier, Rabu (27/7/2016).

Ia menjelaskan, tak hanya kompor saja yang ia ciptakan, tetapi juga bahan bakarnya juga. Yakni menggunakan fermentasi hasil dari bioethanol dari tanaman. Yakni ada tiga tanaman, Tanaman Pati-patian (umbi-umbian), Nirah (limbah cair tebu), dan Selulosa (rumput-rumputan). Bahan-bahan itu diolah, mulai dari difermentasi, diambil kadar alkoholnya, hingga hasil akhirnya berupa cairan berwarna bening.

Dari segi bau memang sedikit mirip dengan spirtus dan alkohol. Penjualan Kompor Gastrik ini sudah memasuki generasi ke 9. Untuk harga, ia mematok harga kisaran Rp 250 ribu hingga Rp 400 ribu.

“Kompornya ini juga menggunakan baterai 9 volt sebagai pengganti aliran listrik.,” imbuh pria asal Bandung ini. Dari hasil penelitiannya itu, setidaknya ia butuh waktu sekitar 3 tahun untuk mengembangkan usahanya agar dikenal dimasyarakat, dan bisa memasarkan.

Selain Handoko, juga ada Puji Heru Sulistiyono (53). Pria asal Sleman Jogjakarta ini, datang untuk memamerkan tiga penelitian teknologinya, yakni Ternak Cacing menggunakan reactor cacing yang sudah ia jalani sejak tahun 1999. Lalu juga ada teknologi pengelolahan sampah basah yang ia teliti sejak tahun 2014. Serta penelitian teknologi media tanam plastik yang sudah ia jalani sejak tahun 1992.

Ia mengatakan, dari tiga penelitiannya ini hanya satu yang berhasil ia komersilkan. Yakni Ternak cacing. Dengan reactor cacing. “Karena ternak cacing kan banyak yang membutuhkan. Untuk dikomersilkan juga mudah, karena ramah lingkungan,” tuturnya. Ia pasang harga reactor cacing yakni sebesar Rp 1,2 juta untuk tipe panjang 135 cm.

Selain itu, satu usaha yang berhasil dikomersilkan dari Malang, ialah inovasi Sulis (susu listrik). Kebanyakan susu sapi sehabis diperah dimasak menggunakan kompor, tetapi ini menggunakan alat yang memakai daya listrik untuk menghasilkan susu yang siap diminum.

M Choirul Aziz, Asisten Research & Development Director alat MaxZer, mengatakan memulai usaha ini sejak tahun 2007. Sedangkan mulai dipasarkan sejak tahun 2009. Saat ini sudah ada sekitar 100 alat yang terjual. Untuk alatnya sendiri ada berbagai macam penggunaan.

“Ada yang untuk membuat keju, yogurt, susu, serta teh. Masing-masing beda alatnya,” tuturnya.

Alat ini menggunakan tenaga listrik 2000 watt. Hasil susu yang dihasilkan apabila tidak ditaruh di dalam kulkas akan tahan selama 1 bulan maksimal. Sedangkan apabila di dalam kulkas, maksimal akan tahan selama 6 bulan. Alat dengan bernama Pasteurisasi Susu ini menampung susu cair sebanyak 50 liter. Harganya sekitar Rp 4 juta.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, sejauh ini para innovator di bidang teknologi yang memiliki usaha dan tergabung dalam Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (Inotek) memiliki kendala, yakni sulitnya untuk menkomersilkan karya ciptaan masing-masing. Beberapa karya inovasi teknologi ada yang sudah mengkomersilkan karyanya, ada juga yang belum.

(Sumber: suryamalang.tribunnews.com)
maxster No Comments

Astra Beri Penghargaan ke Penggagas ‘Susu Listrik’

PT Astra Internasional Tbk kembali menggelar acara pemberian penghargaan kepada pemuda-pemudi inspiratif di Indonesia.

Acara penganugerahan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2015 memberikan penghargaan kepada pemuda-pemudi yang berkontribusi dalam 5 bidang.

Para dewan juri terdiri dari Emil Salim, Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek, Fasli Jalal, Tri Mumpuni, dan Onno Purbo.

Nila Moeloek mengapresiasi semangat generasi pemuda-pemudi yang memberikan kontribusinya bagi negeri.

“Saya kagum dan salut melihat semangat generasi muda dari seluruh Indonesia dengan segala tantangan yang dihadapi. Mewakili dewan juri, kami cukup sulit dalam menilai penerima apresiasi yang terbaik dari yang terbaik,” kata Nila Moeloek, saat menghadiri acara penjurian SATU Indonesia Awards 2015 seperti dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (21/10/2015)

Berikut ini penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2013, yakni katagori:

Bidang Pendidikan:

‘Pembuka Mata’ Tuna Netra, Tutus Setiawan – Surabaya, Jawa Timur

Tutus Setiawan (35), penyandang tuna netra sejak usia delapan tahun. Tutus memiliki kepedulian yang cukup mendalam terhadap kemajuan teman-teman sesama tuna netra.

Tak sendirian, Tutus mengajak empat orang temannya sesama tunanetra, yaitu Sugi Hermanto, Atung Yunarto, Tantri Maharani dan Yoto Pribadi untuk mendirikan LPT (Lembaga Pemberdayaan Tunanetra). Lembaga itu menjadi wadah bagi tunanetra di Surabaya untuk terus belajar dan berlatih meningkatkan kemampuannya agar bisa eksis di masyarakat.

‘Sang Merak’ dari Timur, Risna Hasanudin – Manokwari, Papua

Wanita asal Banda Naira, Maluku, bernama Risna Hasanudin ini prihatin dan miris melihat nasib anak-anak Papua, khususnya perempuan Arfak, saat mendatangi Kampung Kobrey, Manokwari, Papua. Kelahiran 1 Februari 1988, perempuan ini merupakan sarjana lulusan FKIP Universitas Pattimura Maluku.

Keprihatinannya telah mengantarkan Risna menetap di Kampung Kobrey dan membantu anak-anak dan perempuan Arfak agar tak menjadi generasi tertinggal. Pada September 2014, Risna mendirikan rumah belajar (Rumah Cerdas Perempuan Arfak Papua Barat). Tujuannya, untuk mencerdaskan perempuan Arfak. Kegiatan Risna di Rumah Cerdas Arfak ini adalah mengajar membaca, menulis dan berhitung. Selain itu, Risna juga memberikan pelatihan tentang usaha kecil.

Bidang Lingkungan:

Kreator Desa Wisata Tanon, Trisno – Semarang, Jawa Tengah

Trisno, pria kelahiran Dusun Tanon, Semarang 12 Oktober 1981 ini memang luar biasa. Ia adalah pemuda pertama di kampungnya yang berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana. Setelah menamatkan kuliahnya di Universitas Muhammadiyah Surakarta, jurusan Sosiologi, Trisno bertekad kembali ke kampungnya yang miskin.

Sebagian besar penduduk Dusun Tanon adalah peternak sapi perah dan petani. Tapi Trisno lebih memilih fokus mengembangkan dusunnya dengan beralih ke pariwisata. Terobosan yang ia lakukan dengan mengajak para warga untuk sadar wisata dan mengolah dusun mereka menjadi dusun wisata. Dalam tiga tahun perjalanannya, Desa Wisata Tanon sudah menghasilkan Rp 250 juta, itu belum termasuk pendapatan perorangan dari hasil penjualan produk mereka.

Bidang UKM:

‘Raja Perak’ dari Malang, Faishal Arifin – Malang, Jawa Timur

Berbekal ilmu kerajinan perhiasan yang didapat saat merantau ke Kalimantan, membuat Faishal memberanikan diri untuk menawarkan produk kerajinan perhiasan berbahan dasar emas dan perak ke rumah-rumah dan kantor-kantor, dengan hanya bermodalkan katalog pada 2009.

Keberhasilannya pada usaha kerajinan perhiasan berbasis hand made itu karena kecerdikan Faishal melihat peluang, selain jiwa kewirausahaannya yang mulai tumbuh sejak di bangku kuliah. Kegigihannya dalam berusaha sebagai entrepreneur muda telah membuahkan hasil, pria berusia 28 tahun ini kini telah memiliki usaha beromzet hingga Rp 350 juta per bulannya.

Bidang Kesehatan:

Pelopor Relawan Kesehatan, Dani Ferdian – Bandung, Jawa Barat

Dokter Dani Ferdian adalah penggagas Volunteer Doctors (Vol D), sebuah sekolah nurani tenaga kesehatan. Vol D memiliki keunikan tersendiri dibanding lembaga sosial lainnya, karena di sini yang dibangun adalah karakter para calon dokter dan tenaga kesehatan. Sampai kini sudah ada sekitar 1.000 dokter dan tenaga kesehatan yang tergabung di Vol D sejak dirintis pada 2009.

Bidang Teknologi

Susu Listrik

Penggagas ‘Susu Listrik’, Apriliawan Hadi – Malang, Jawa Timur

Berawal dari keprihatinan terhadap kondisi peternak di kampung halamannya di Desa Sragi, Banyuwangi, Jawa Timur, Apriliawan Hadi mencoba mencari solusi alat yang bisa mengatasi masalah klasik yang dihadapi peternak. Yakni, susu yang tak bertahan lama dan kandungan bakteri patogennya yang bisa menyebabkan penyakit bagi yang mengonsumsinya.

Hadi pun terpikir untuk menciptakan alat pasteurisasi. Akhirnya pada 2007, pria kelahiran 21 April 1989 ini mendapatkan kesempatan untuk melakukan penelitian melalui Program Kreatif Mahasiswa (PKM). Akhirnya Hadi berhasil menemukan teknologi pasteurisasi modern berbasis kejut listrik yang dinamai Latte Electricity (LE). Kehadiran alat LE ini membawa harapan baru bagi peternak. Pasalnya, dengan metode kejut listrik hasil susu perah bisa bertahan lebih lama serta kandungan protein dan gizi dalam susu segar hasil perahan peternak tetap terjaga.

Kategori Kelompok, Bidang Teknologi

Kelompok Grombyang OS Indonesia – Pemalang, Jawa Tengah

Saat kelompok ini dibentuk tahun 2012, para pendirinya Sumitro Aji Prabowo adalah seorang mahasiswa semester III, Jordan Andrean duduk di bangku SMK kelas 2 dan Nanda Arfan Hakim duduk di bangku SMK kelas 1. Berawal dari hobi yang sama mereka membentuk komunitas yang diberi nama Komunitas Pengguna Linux Indonesia (KPLI) pada tahun 2012 yang anggotanya hanya terdiri dari lima orang. Kemudian, komunitas ini berubah nama menjadi Grombyang OS pada tahun 2013.

Dengan adanya Grombyang OS, masyarakat dapat menggunakan sistem ini tanpa membayar, dapat diunduh secara gratis, sehingga tidak perlu menggunakan produk yang selama ini mereka pakai secara sistem, karena itu melanggar hak cipta. Kelebihan lainnya, sistem ini lebih cepat kerjanya dan tidak membutuhkan antivirus.

(sumber: finance.detik.com)